Menggambar Bersama Anak-anak Bantaran Sungai Ciliwung

Anak-anak – mustinya suka menggambar. Tapi sejak mereka masuk sekolah dan dapat nilai jelek di pelajaran menggambar maka sejak itu mereka malas dan enggan menggambar. Jika ditanya kenapa tidak mau menggambar? jawabannya, “saya gak bakat”.

Jumat pagi (22 Desember 2017) Motulz, Seto, dan Vira pergi mengunjungi pelosok kampung sempit di kawasan Condet Jakarta Timur. Mereka diajak mengunjungi sebuah pondokan di tepian bantaran Sungai Ciliwung, namanya Komunitas Sungai Ciliwung, yaitu salah satu komunitas binaan dari PT. Indo Tambangraya Megah Tbk. Selain tim Sketchwalker yang akan mengajak anak-anak menggambar ada juga tim lain yang mengajarkan cara mendongeng bagi ibu-ibu warga bantaran sungai.

Anak-anak ini tinggal tidak jauh dari lokasi bantaran sungai, sejak pagi mereka datang dari berbagai usia kumpul di sebuah pondokan yang di sekitarnya banyak pepohonan Salak. Pada mulanya anak-anak ini terlihat begitu formil, semacam kaku, diam, serius, dan tertib menyimak pengarahan bagai di ruang kelas. Motulz yang kebagian menjelaskan di depan pun mulai mencairkan suasana. Motulz menjelaskan bahwa pagi itu anak-anak akan diajarkan menggambar apa yang mereka suka yang berada di sekitar pondokan.

Baru saja sesi menggambar dimulai, pelan-pelan akhirnya anak-anak mulai nampak asik dengan gambarnya masing-masing. Ada Azril (5th), tidak bisa menggambar tapi nekad ingin ikutan menggambar, ada juga sekelompok anak yang agak besar yang sejak awal banyak tingkah, petakilan, becanda, dan saling ganggu. Sementara anak-anak yang kecil nampaknya mulai menemukan keasikan tersendiri dengan gambarnya. Motulz, Seto, dan Vira bergantian berkeliling di antara anak-anak ini.

Untuk anak-anak yang besar dan banyak tingkah tadi, ternyata mereka lebih suka menggambar bebas ekspresif. Tidak menggambar obyek melainkan bermain warna yang sangat berani dan beberapa dibubuhi tulisan dengan pesan-pesan. Nampaknya anak-anak ini memang gemar melukis berkesenian, maka saat cat air dibagikan mereka dikelompokkan dengan teman-teman se-usianya.

Sementara untuk yang anak-anak, mereka pun dibagi group agar dapat menggunakan cat air secara berbagi. Pas sesi cat air ini nampak sekali semua anak-anak yang awalnya ragu dan pemalu, seketika saja keasyikan, hanyut, dan larut dalam hayalannya bersama goresan kuas. Beberapa anak bahkan saat asyik menyapu kuasnya mereka sambil menyanyi tentang lagu menjaga lingkungan hidup bantara sungai, ah sungguh seru sekali.

Anak-anak bisa jadi tidak banyak yang pandai menggambar bagus atau gambar yang menyerupai obyeknya. Akan tetapi aktivitas menggambar adalah aktivitas naluriah yang pastinya digemari oleh anak-anak – selama tidak ada tuntutan atas apa yang sedang ia gambar. Kegiatan workshop atau gambar bersama ini memang awalnya merupakan inisiatif dari teman-teman Sketchwalker yang disambut oleh PT. Indo Tambangraya Megah Tbk. untuk kemudian dibawa ke komunitas di Condet ini. Harapannya, dengan makin banyak anak-anak yang menyukai gambar maka makin banyak pula anak-anak yang berkesempatan memanfaatkan kemampuan berimajinasinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *