Lincah dan Gesit si Kora-Kora asal Banda

Persis di sebelah tempat kami biasa nongkrong  – The Nutmeg Tree Resort and Dive, terlihat sebuah perahu yang gagah dengan ornamen yang memukau. Sebuah perahu dayung dengan panjang kurang lebih 10 meter berbentuk mirip seperti kano namun lebih menyempit. Inilah perahu asli Banda!

Terlihat dari pernak perniknya yang diukir tradisional dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi, dapat dipastikan perahu ini tidak dipakai untuk kegiatan sehari hari. Kora-kora dipakai hanya pada upacara atau acara khusus, misalkan seperti penyambutan tamu kehormatan yang datang dari luar Banda. Namun semenjak kedatangan Belanda, perahu semacam ini pernah dijadikan armada perang di lautan.

Karena bentuknya yang menyempit tersebut, Kora-kora menjadi armada yang memiliki karakter gesit dan lincah. Sekarang tak hanya menjadi perahu penyambut tamu, kini kerap diadakan perayaan balap kora-kora antar desa di Banda Neira.

Walaupun tidak sempat menyaksikan secara langsung perlombaan balap Kora-Kora, namun saya merasa cukup beruntung dapat melihat perahu ini turun ke laut untuk menyambut kedatangan Bupati dalam keperluannya menghadiri pembukaan Pesta Rakyat Banda 2017. Dalam pantauan yang saya lihat, masing masing Kora-kora terdiri dari 36 personel (1 orang navigator, 1 orang pengendali arah, 1 orang penabuh drum, 1 orang pembuang air, dan 32 pendayung) semua personel adalah pria dengan varian usia muda hingga tua. Sejak perahu diturunkan dari “garasi” Kora-kora, para personel sudah siap duduk di posisi masing-masing. Tradisi tersebut diadaptasi dari kebiasaan para pejuang Banda yang selalu sigap saat akan bertempur. Setelah selesai melaut, para personel Kora-kora pun bersorak berkali-kali sambil teriak “satu, dua, tiga !!” bersamaan mereka menggotong  kapal yang beratnya kemungkinan bisa mencapai satu ton kembali parkir di garasi dengan menggunakan balok-balok kayu sebagai roda.

Bentuk Kora-kora banyak mengadaptasi dari bentuk perahu naga dari Cina. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa bangsa Cina telah sampai di Banda melalui jalur dagang jauh sebelum Eropa menginjakkan kaki mereka di kepulauan surga rempah-rempah ini.

Diceritakan dan ditulis oleh @nugraha.pr


Disajikan atas dukungan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *