Gowes Dari Bandung Ke Semarang Demi Sketching

Ketika terpikir untuk melakukan satu hal gila dalam hidup dan tiba tiba ada teman yang memiliki keinginan yang sama, jangan pernah lagi untuk berpikir dua kali, alias “sikat!!”. Itu yang terjadi ketika salah satu teman di forum penggiat urban sketching bernama Ichsan Harja secara tiba tiba mengajak untuk bersepeda dari Bandung ke Semarang.

Sebuah hajatan besar bagi sketcher, International Semarang Sketchwalk 2016 (ISSW 2016). Beberapa teman bahkan berkomentar: “edan”, “gila”, “itu bodorrr siah kalo bener kejadian…”, dan lain sebaginya. Kembali ke kalimat awal tadi, bahwa saya ngga mau untuk berpikir dua kali, saya jawab “ayo” lalu kami merencanakan rute dan lain lain. Saya juga mengajak seorang teman yang kemungkinan besar ngga mungkin menolak ajakan seperti ini. Seorang arsitek, sketcher, dan avid cyclist, Fariduddin Atthar.

Tanggal 30 Juli 2016 rute bersepeda dari Bandung ke Semarang untuk ISSW 2016 telah ditentukan. Rute yang akan kami lalui dari Bandung adalah Ciamis, Banjar, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Ambarawa lalu turun menuju Semarang. Jalur yang kami tempuh berjarak 500kilometer dengan jalur yang harus memotong beberapa gunung, tentunya dengan pemandangan yang bisa dibilang sangat aduhai.

Tepat hari Senin tanggal 22 Agustus 2016 hari pertama petualangan ini dimulai, kami berkumpul di Cinunuk, Bandung Timur jam 8 pagi. Saya, Kang Ichsan, dan Atthar memulai perjalanan jam setengah 9 pagi melalui Nagreg dimana tantangan tanjakan dimulai. Semua masih lancar sampai akhirnya kami tiba di tanjakan terakhir untuk hari pertama di kawasan Ciamis. Tanjakan yang cukup terjal dan panjang. Kebetulan bawaan saya dan Kang Ichsan ini cukup berat, karena kami membawa peralatan sketsa untuk nanti di Semarang, alat masak, perlengkapan sehari hari, sampai peralatan camping.

Tanjakan ini terasa sangat berat sehingga kami harus mendorong sepeda. Karena sudah tidak mungkin lagi untuk mengayuhnya sampai atas. Namun setelah tanjakan pasti selalu ada turunan yang di kelilingi dengan pemandangan sawah dan pepohonan yang cukup untuk menyembuhkan rasa capek. Seharusnya hari pertama kami beristirahat di Banjar, namun tepat saat maghrib hujan sempat turun, sehingga kami harus berteduh di kedai bakso sambil menunggu hujan reda di Ciamis. Setelah curah hujan berkurang, kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Ciamis yang terletak bersebrangan dengan Alun Alun kota dan kami bermalam di Masjid.

Sesuai dengan rencana kami akan memulai perjalanan dari Masjid Agung Ciamis jam 5 pagi. Lalu melanjutkan perjalanan menuju Banjar untuk sarapan. Setelah sarapan kami sempet berpapasan dengan rombongan touring sepeda lain, mereka berencana untuk ke Madura dan kami sempat beristirahat bareng. Mengejar kilometer yang kami tinggalkan kemarin seharusnya hari ini kami beristirahat di Purwokerto yang berjarak kurang lebih 150 kilometer dari Banjar. Untungnya di rute hari ini relatif datar tidak ada tanjakan. Hari ini kami meneruskan perjalanan melalui jalan provinsi. Namun menurut rute di peta yang kami rencanakan ternyata kami dibimbing melewati jalan lain yang lebih dekat. Dari jalan provinsi kami dialihkan untuk melewati Jalan Letjen Suwarto, Banjar lalu berlanjut menyusuri Jalan Banjar – Langensari. Curiga terus terasa ketika jalanan semakin lama semakin sempit. Selepas Jalan Letjen Suwarto kami melalui pasar, berlanjut ke jalan perkampungan, sampai akhirnya kami melewati jalan tanah setapak di tengah sawah.

Sampai akhirnya kami sadar bahwa kami ‘nyasar’ di bawah terik matahari tepat jam 12.00 siang. Kami melanjutkan hingga berhasil menemukan jalan aspal lagi. Panas matahari yang terik membuat kepala cukup pusing, sehingga kami mencari atap untuk melepas lelah. Sekitar satu jam kami beristirahat sampai tertidur. Setelah terbangun, kami mencoba melanjutkan, ternyata ban sepeda Atthar bocor. Untungnya masalah ban sepeda itu bisa terselesaikan dengan cepat, karena kami ngga jauh dari bengkel motor yang memiliki kompresor angin. Ternyata kami tertidur tidak jauh dari pintu air perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kami sempat berhenti disitu karena pemandangan yang sangat indah. Pemandangan berupa langit, dan sungai lebar yang memanjakan mata dan membuat kami lupa akan pusing yang didapat dari matahari super terik siang tadi. Kami melanjutkan perjalanan menuju Purwokerto melalui Sidareja dan kami akhirnya kembali ke Jalan Provinsi.

Pukul 18.00 kami sampai di Sidareja. Sebuah kota di perbatasan provinsi yang mana kehidupan masyarakatnya masih beraktifitas hingga malam hari. Karena gelap, kami memutuskan untuk beristirahat di Sidareja. Karena setelah Sidareja kami melewati hutan yang dilalui kendaraan bus dan truk. Kami singgah di mushola kecil di pinggir Jalan Provinsi. Tidak jauh dari mushola sedang diadakan pagelaran pesta rakyat yaitu pertunjukan wayang. Dari jarak 2 kilometer itu masih sangat terdengar jelas alunan musik gamelan yang memanjakan telinga kami, dan ketika melihat langit kami bisa melihat taburan bintang dengan sangat jelas.

Pagi pun tiba, setelah mandi dan berberes, kami pun sudah siap pada jam 6.00 untuk melanjutkan perjalanan menuju Purwokerto di hari ke 3. Untung kami tidak terbawa nafsu untuk mengejar Purwokerto semalam, karena pemandangan yang kami lalui di pagi ini sangat indah. Kami melalui beberapa tanjakan yang berkabut dan dihiasi pemandangan pematang sawah juga pegunungan hingga kami sampai di daerah yang menurut peta bernama Cingebul. Yaitu puncak dari tanjakan yang barusan kami lalui dengan pemandangan pegunungan yang lebat dengan pepohonan hijau warna biru langit pagi bak cat air berwarna ultramarine. Di sini kami istirahat sebentar, karena tanjakan terjal yang barusan kami lewati membuat baju kami basah kuyub karena keringat.

Setelah beristirahat sambil menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan melalui turun yang terasa “asoy” kembali ke jalan utama di jalur selatan Jawa Tengah, namanya Jalan Nasional. Teringat kalau kami bertiga belum sarapan, dan hari sudah terlanjur siang. Kami memutuskan untuk makan nasi dengan lauk di restoran yang plang iklannya menghiasi Jalan Nasional ini. Entah kenapa plang rumah makan ayam goreng ini terasa indah buat kami yang sudah menempuh ratusan kilometer dengan sepeda.

Akhirnya tibalah kami di Rumah Makan Ayam Goreng Lumbir untuk makan siang sekalian menjemur baju yang basah kuyub karena keringat. Benar saja kami langsung kalap, saya memesan sepotong paha ayam, sepiring ikan wader, dan sepiring tumis keong. Belum lagi kang Ichsan, sosoknya yang “sunda pisan” jelas dia kangen lalapan, apa lagi di rumah makan ini tersedia Leunca. Jika dihitung rata-rata kami nambah nasi sampai 4 kali ngambil dari bakul. Melihat matahari siang ini sangat panas diluar rumah makan, membuat kami jadi ingin bermalas-malasan dulu. Bahkan setelah Kang Ichsan menyusun strategi untuk mencapai Purwokerto, bisa tiba-tiba ketiduran. Setelah awan mulai dipihak kami membantu menutup sebagian terik matahari, kami melanjutkan perjalanan menuju Purwokerto.

Kami mengubah sedikit rencana perjalanan, karena harus sampai di pembukaan ISSW 2016 tanggal 25 Agustus 2016 di Balai Kota Semarang. Rencana baru itu adalah kami riding sampai Terminal Purwokerto lalu melanjutkan perjalanan dengan bus sampai Ambarawa. Hal ini harus kami lakukan demi menghindari tanjakan terjal di Gunung Sindoro dan Gundung Sumbing, Wonosobo.

Perjalanan kami lanjutkan melalui Jalan Nasional yang cenderung datar. Sebelum memasuki Purwokerto, tepat disebelah kanan rute yang kami lalui, kami dimanja dengan indahnya pemandangan Sungai Serayu dengan beberapa jembatan kereta peninggalan era kolonial yang menemani perjalanan kami hingga hampir memasuki kota Purwokerto. Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Terminal Purwokerto. Beruntung sore ini masih ada bus jurusan Purwokerto – Bawen. Perjalanan di Bus ini cukup mempersingkat jadwal perjalanan kami. Perjalanan kurang lebih 6 jam sampai kami memasuki kawasan Ambarawa dan disana kami menginap di penginapan kecil yang jauh lebih nyaman dibandingkan mushola dan masjid yang kami singgahi di hari sebelumnya.

Semarang tersisa 38 kilometer lagi dari tempat kami menginap di Ambarawa. Kami melanjutkan perjalanan dari jam 11.00 siang. Beberapa tanjakan di Ambarawa tidak terasa berat setelah kami melewati pegunungan di hari sebelumnya. Plang penunjuk jalan bertuliskan nama kota Semarang membuat semangat kami lebih terbakar dan ingin cepat sampai disana. Jalan dari Ambarawa menuju Semarang relatif menurun, membuat perjalanan hari terakhir ini menjadi tidak berat. Sesampai di Ungaran, kami disambut oleh salah satu panitia ISSW206 bernama Riva dengan sepedanya. Kami berempat melanjutkan perjalanan dari Ungaran menuju kawasan Kota Lama.

Akhirnya kami tiba di Semarang sekitar pukul 15.00 WIB. Riva mengajak kami singgah ke sekretariat Semarang Sketchwalk yang terletak di Kota Lama sebelum kami menuju hotel tempat di mana kami akan menginap yang lokasinya tidak jauh dari situ. Sore harinya kami diajak ke Balaikota untuk menghadiri acara pembukaan resmi ISSW 2016. Saya dan Atthar menghadiri pembukaan itu namun Kang Ichsan melewati acara tersebut karena lelah.

Diperjalanan yang kurang lebih 500 kilometer ini banyak banget pemandangan seperti sawah, hutan, kota-kota kecil dengan berbagai mata pencaharian dan keseharian yang tidak terjadi di perkotaan, bangunan-bangunan yang juga bermacam-macam. Objek-objek tersebut sangat disayangkan tidak sempat kami sketsa, perihal waktu dan jarak yang harus kami kejar. Tapi bagi yang mungkin ingin melalui rute ini, sangat saya rekomendasikan untuk coba men-sketsa beberapa objek disana.

Ditulis : Nugraha Pratama

(Photos are captured by Ichsan Harja, Fariduddin Atthar, Nugraha Pratama)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *