CAKALELE : KEINDAHAN, POLITIK DAGANG, DAN GENOSIDA

Keindahan di tengah keganasan, siapa sangka di antara ganasnya laut Banda terdapat permata Nusantara berupa kepulauan kecil bernama Kepulauan Banda. Terdiri dari sepuluh pulau vulkanik yang memiliki tanah sangat subur, dikelilingi laut yang sangat eksotis, dan gunung Banda Api yang masih aktif.  Lirik lagu Kolam Susu dari Koes Plus saya rasa cukup menggambarkan seperti apa suburnya tahah Kepulauan Banda. 

Persis saat malam tepat di hari kedatangan saya dan teman teman yang sama sama menikmati suasana Banda Neira (9 Oktober 2017), terdengar suara ritme musik dari Drum dan Gong kecil yang diiringi keramaian suara anak anak. Dengan penasaran kami pun mendatangi sumber bunyi itu. Beberapa anak anak Banda mengenakan helm prajurit Spanyol dengan hiasan burung cendrawasih (burung khas Indonesia bagian timur), dengan tombak dan belati panjang, sebagian tidak membawa tombak, namun membawa tameng. Bak prajurit mereka bergerak mengikuti alunan ritme musik. Di belakang mereka berdiri lima anak memegang bambu menjulang tinggi dengan sesekali berteriak dengan lantang dan berani, Tarian ini adalah sebuah tarian perang, berbeda dengan kota kota lain di Maluku, Banda Neira punya cerita sendiri dibalik tarian Cakalele. Dari menakjubkannya kontur alam, kekayaan hasil bumi, hingga pertumpahan darah Banda Neira.

Kesuburan tanah Banda Neira bak tanah surga itu tentu sangatlah manis bagi bangsa Eropa. Perebutan kekuasaan bangsa Eropa akan kepulauan kecil ini pun berlangsung sangat dahsyat. Ratusan bahkan ribuan kapal mencoba mengarungi ganasnya Laut Banda, pertempuran dan pertumpahan darah terjadi. Jauh sebelum Belanda, Kepulauan Banda mengalami penjajahan Portugis di tahun 1500an, lalu sempat juga dibawah kekuasaan Inggris sampai akhirnya Inggris kalah oleh Belanda hingga Belanda menduduki kepulauan ini. Tahun 1621, adalah tahun kelam bagi masyarakat Banda Neira. Kembalinya Jan Pieterszoen Coen (JP Coen) dari Batavia dengan membawa pasukan VOC, para Vrijburger (Pensiunan VOC), para Mardijkers (Orang Kristen Portugis yang merdeka), para relawan, dan para Ronin (tentara jepang yang tak bertuan). Para penjajah ini menggunakan orang hukuman dari Jawa sebagai pendayung, kapal rombongan JP Coen ini tiba di Banda Neira tepat tanggal 27 Februari 1621.

Kedatangan mereka dengan misi menciptakan monopoli perdagangan pala. Sebuah cerita yang saya dapat, buah pala hasil panen Pribumi hanya dihargai 1 sen per kilo dan dijual oleh Belanda dengan harga 10 gulden di perdagangan Internasional yang sungguh sangat merugikan pihak pribumi kala itu. Belanda terus menekan pribumi kala itu karena VOC tidak bisa memberikan harga yang bisa menyaingi murahnya harga jual pala dari pihak Inggris di pasaran. Pemberontakan pribumi atas tekanan Belanda pun terjadi. JP Coen tidak tega melakukan kekerasan kepada pribumi, si busuk ini memaksa delapan Orang Kaya Banda (Orang Kaya adalah sebutan orang Banda untuk orang yang mempunyai pengaruh atau dituakan) untuk mengaku sebagai pemicu pemberontakan. Para Orang Kaya ini dikurung di dalam kurungan bambu berbentuk bulat di Benteng Nassau dengan tuduhan hendak membunuh JP Coen. Menurut sejarah kala itu enam Ronin turut masuk ke dalam kurungan untuk memancung dan memutilasi tubuh para orang kaya ini menjadi empat. Setelah 8 orang kaya ini mati di eksekusi, dilanjut dengan 36 orang kaya lainnya. Jasad mereka ditancapkan di tiang bambu dan dijadikan tontonan bagi masyarakat Banda lainnya. Nama dari ke 44 Orang Kaya banda yang tewas di hari itu ditulis di dalam dokumen laporan JP Coen dalam buku ‘Coen op Banda’ (Coen di Banda).

Di tahun yang sama, JP Coen melanjutkan rencana monopoli perdagangan buah pala dengan memaksa penduduk Banda menandatangani kontrak perdagangan di bawah todongan senjata. Karena perjanjian tersebut tidak menguntungkan bagi pihak pribumi, beberapa dari penduduk Banda masih berani menjual pala kepada Inggris, ditukar dengan senjata untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda. JP Coen terus melakukan penindasan, bahkan dengan hukuman yang semakin berat, sehingga pada tahun 1621, Banda Neira dibanjiri dengan mayat.

Dari cerita ditahun 1621 itulah asal muasal Cakalele Banda. Bukan hanya sekadar seni tari, buat saya Cakalele adalah sebuah cerita pilu penuh pengorbanan yang dikemas dalam keberanian. Bagi anak anak Banda, mendapatkan peran dalam Cakalele seperti memainkan tombak (sanokat), belati (lopu), dan tameng (salawaku) bak prajurit pemberani menjadi hal yang sangat diidamkan.

Ditulis oleh : @nugraha.pr


Disajikan atas dukungan :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *